Tuesday, June 6, 2017

Misteri Mimpi yang Harus Diketahui

mimpi yaitu pandangan, peristiwa, atau pengalaman yang kita alami waktu tidur, yang melibatkan fikiran, 

perasaan serta indera yang lain. Oneirologi yaitu pengetahuan yang pelajari mengenai mimpi. 
Mimpi bukan sekedar dihadapi manusia, sebagian hewan di ketahui juga alami pandangan waktu tidur. Mimpi 

yang kita alami kadang-kadang bergantung pada tanda di sekitar kita, semisal anda tidur dalam situasi 

kedinginan, jadi kali saja anda punya mimpi ada di kutub utara. 
Waktu tidur serta punya mimpi, otak jadi terisolasi dari dunia luar serta mimpi bisa memengaruhi situasi 

hati. Dalam mimpi, orang kerap alami lonjakan emosi berbentuk kekuatiran, ketakutan, kebahagiaan, dan 

sebagainya. Sedangkan emosi negatif lebih umum berlangsung dari pada yang positif. Mimpi juga di pengaruhi 

oleh situasi hati kita yang kita bawa mendekati tidur. 
Fikiran kita seolah dilalui rangkaian gambar, nada serta sensasi yang lain ketika kita alami mimpi. Dalam 

histori, sudah beberapa orang yang mencari arti mimpi atau coba meramal arti dari mimpi yang di alami, 

mimpi memanglah mengacu ke refleksi alam bawah sadar. Konon, manusia menggunakan saat 6 th. utk punya 

mimpi, dengan patokan tiap-tiap malam alami mimpi sepanjang 2 jam. 
Riset tunjukkan, sekitaran 10 persen remaja alami mimpi yang terkait dengan seksual. Riset yang lain 

tunjukkan 8 persen dari pria serta wanita alami mimpi erotis, serta pada sebagian masalah mimpi seksual, 

menimbulkan orgasme yang di kenal dengan sebutan “mimpi basah”. Sekitaran 70 persen wanita serta 65 persen 

pria alami mimpi yang berulang, segelintir orang menyampaikan kalau mereka alami mimpi dengan warna hitam 

serta putih. 
Beberapa orang lupa bakal mimpinya, walau bisa dilatih kapabilitas buat mengingat mimpi yang di alami. 

Wanita semakin dapat mengingat mimpinya dibanding pria, mimpi juga mungkin saja menimbulkan dejavu pada 

beberapa orang. 
Mimpi kelihatannya tidak mungkin bakal berlangsung di kehidupan riil, namun pernahkan mimpi anda jadi 

fakta? 
Beberapa orang mengakui mimpinya jadi fakta, apakah mimpi itu berhubungan dengan dirinya sendiri maupun 

berhubungan dengan orang lain. Th. 1927, JW Dunne, mempublikasikan hasil penelitiannya mengenai mimpi, 

sekitaran 10 persen dari mimpi-mimpinya jadi fakta. 
Th. 1952, Eugene Aserinsky merekam gelombang otak waktu alami mimpi. Pada th. 1940 sampai 1985, Calvin S. 

Hall sukses menyatukan sekitaran 50. 000 laporan mimpi di Western Reserve University. Th. 1966, Van De 

Hall menerbitkan “The Kontent Analysis of Dreams”, dengan pelajari mimpi dari 1. 000 mahasiswa. Ini 

tunjukkan kalau umumnya orang punya mimpi mengenai hal yang sama. 
Sigmund Freud pelajari jalinan mimpi serta fikiran bawah sadar, ia juga menerbitkan buku berjudul “The 

Interpretation of Dreams”, serta ia menganalisis kalau tidur yaitu keadaan yang baik utk telepati. 
Orang yang mimpinya jadi fakta, umumnya yaitu mereka yang sudah menekuni disiplin mental serta kerap 

jalankan meditasi. Dengan kata lain, orang yang punyai tingkat mimpi yang akurat tidaklah orang yang aneh, 

tetapi mereka yang punyai tingkat emosi yang baik. 
Banyak yang berpikiran, mimpi sebagai fakta sekedar satu kebetulan, serta orang cuma mengingat mimpi 

sebagai fakta, sesaat mimpi yg tidak jadi fakta bakal lekas dilupakan. 
Beberapa peneliti belum bisa menerangkan dengan cara tentu kenapa mimpi dapat jadi fakta, tidakkah mimpi 

tidak dapat di teliti memakai mikroskop?

Pembahasan Lengkap Deja Vu

Pengertian Deja Vu 
Deja vu datang dari kata Perancis yang bermakna " sudah lihat ". Kata ini memiliki sebagian turunan serta macam seperti deja vecu (sudah alami), deja senti (sudah pikirkan) serta deja visite (sudah berkunjung ke). Nama Deja Vu ini pertama kalinya dimanfaatkan oleh seseorang ilmuwan Perancis bernama Emile Boirac yang mendalami fenomena ini th. pada 1876. 

Terkecuali deja vu, ada lagi kata Perancis yang disebut lawan dari deja vu, yakni Jamais Vu, yang berarti " tdk pernah lihat ". Fenomena ini nampak kala seorang utk sesaat saat tidak bisa mengingat atau mengetahui momen atau orang yang telah pernah di kenal terlebih dulu. Saya rasa beberapa dari kalian juga kerap merasakannya. 


Sebelum kita lihat tentang deja vu, pertama, kita butuh paham apa yang dimaksud dengan " Recognition Memory ", atau memori pinginal. 

Recognition Memory 
Recognition Memory yaitu satu tipe memori yang mengakibatkan kita mengerti kalau apa yang kita alami saat ini sesungguhnya telah pernah kita alami terlebih dulu. 

Otak kita berfluktuasi pada dua tipe Recognition Memory, yakni Recollection serta Familiarity. Kita memanggil satu ingatan jadi Recollection (pengumpulan kembali) apabila kita dapat mengatakan dengan pas saat itu juga kapan kondisi yang kita alami pernah nampak terlebih dulu. Contoh, apabila kita berjumpa dengan seorang di toko, jadi dengan selekasnya kita mengerti kalau kita telah pernah memandangnya terlebih dulu di bus. 

Sedangkan ingatan yang dimaksud Familiarity nampak kala kita tdk dapat memanggil dengan tentu kapan kita lihat pria itu. Deja Vu yaitu contoh Familiarity.  

Selama berlangsung Deja Vu, kita mengetahui kondisi yang tengah kita hadapi, tetapi kita tidak paham di mana serta kapan kita pernah menghadapinya terlebih dulu. 

Yakin atau tdk, 60 hingga 70 % manusia di bumi ini minimalnya pernah alami deja vu minimum sekali, apakah itu bersifat pandangan, nada, rasa atau bau. Jadi, apabila anda kerap alami deja vu, terang anda tdk sendirian didunia ini. 

Teori-Teori Deja Vu 
Meskipun Emile Boirac telah menelaah fenomena ini mulai sejak th. 1876, tetapi ia tdk pernah dengan cara selesai selesaikan penelitiannya. Karna itu, banyak peneliti sudah berusaha untuk menyadari fenomena ini hingga pada akhirnya kita memperoleh Paling tdk 40 teori yang tidak serupa tentang deja vu, di mulai dari momen paranormal sampai masalah syaraf. 

angguan akses memori 
Sigmund Freud yang kerap dijuluki jadi ayah psikoanalisa pernah menelaah tentang fenomena ini serta ia yakin kalau seorang bakal alami Deja Vu kala ia dengan cara spontan teringat dengan satu ingatan bawah sadar. Karna ingatan itu ada pada ruang bawah sadar, isi ingatan itu tdk nampak karna dihalangi oleh fikiran sadar, tetapi perasaan familiar itu bocor keluar. 

Teori Freud ini dapat dibuktikan jadi landasan untuk teori-teori yang nampak selanjutnya. 

Tetapi sebelumnya saya mengulas teori-teori yang lain, saya menginginkan mengajak kalian utk mengetahui satu kata ini terlebih dulu, yakni " Subliminal ". Subliminal datang dari kata latin, yakni " sub " serta " Limin atau Limen ". " Sub " bermakna bawah, sedang " Limin " bermakna ambang batas. Dalam pengertian psikologi, subliminal bermakna beroperasi di bawah sadar. 

Lagi-lagi terkait dengan bawah sadar. Maksud saya mengenalkan kata ini yaitu utk menyadari teori berikut ini. 

Perhatian yang terpecah - teori hp 
Seseorang peneliti bernama Dr. Alan Brown pernah mengadakan uji coba yang diinginkan dapat membuat lagi sistem deja vu. Dalam percobaannya, ia serta rekannya Elizabeth Marsh memberi sugesti subliminal pada subyek penelitiannya. 

Mereka membuktikan beberapa kumpulan photo yang membuktikan beberapa lokasi yang tidak serupa pada sekumpulan pelajar dengan maksud ajukan pertanyaan pada mereka mana yang dikira paling familiar untuk mereka. Dalam percobaan ini, semuanya pelajar yang ditest belum pernah berkunjung ke beberapa lokasi yang ada di photo itu. 

Tetapi sebelumnya mereka membuktikan foto-foto itu, terlebih dulu mereka menayangkan beberapa photo itu di monitor dengan kecepatan subliminal lebih kurang 10 hingga 20 milidetik. Kecepatan itu cukup untuk otak manusia utk menaruh kabar itu dibawah sadar, tetapi kurang untuk beberapa pelajar itu utk mengerti serta menyimpan perhatian kepadanya. 

Dalam percobaan ini dapat dibuktikan kalau beberapa lokasi pada foto-foto yang telah disiarkan dengan kecepatan subliminal dikira paling familiar untuk beberapa pelajar itu. 

Uji coba mirip pernah diselenggarakan oleh Larry Jacobi serta Kevin Whitehouse dari Washington University. Bedanya, mereka memakai beberapa kumpulan kalimat, bukanlah photo. Tetapi hasil yang didapat sama juga dengan uji coba Dr. Alan Brown. 

Berdasar pada pada hasil uji cobanya, Dr. Alan Brown lalu ajukan satu teori yang dikatakan sebagai teori hp (atau perhatian yang terpecah). 

Teori ini menyampaikan kalau kala perhatian kita terpecah, jadi, dengan cara subliminal, otak kita bakal menaruh kabar tentang keadaan disekitar kita tetapi tdk betul-betul menyadarinya. Ketika perhatian kita mulai konsentrasi kembali, jadi semua kabar tentang sekitar kita yang tersimpan dengan cara subliminal bakal " terpanggil " keluar hingga kita terasa lebih familiar. Ini seperti sama bongkahan es dibawah permukaan air yang naik ke atas permukaan. 

Contoh, apabila kita masuk satu tempat tinggal sembari bercakap dengan orang lain, jadi perhatian kita tak kan terpaku pada keadaan tempat tinggal itu, tetapi otak kita sudah menaruh kabar itu dengan cara subliminal dibawah sadar. Ketika kita usai bercakap, fikiran kita mulai konsentrasi serta kabar yang tersimpan dibawah sadar mulai nampak. Saat itu juga kita mulai terasa familiar dengan tempat tinggal itu. 

Jadi, berdasar pada teori ini, deja vu tdk terkait dengan peristiwa di kala lantas yang sudah berjalan lama. 

Memori dari sumber lain 
Ada lagi teori yang lain. Teori ini yakin kalau otak kita menaruh banyak memori yang datang dari beraneka segi kehidupan kita, seperti film yang kita saksikan, gambar maupun buku yang kita baca. Beberapa informasi ini kita taruh tanpa ada kita sadari. Searah dengan lewatnya saat, jadi kala kita alami momen yang serupa dengan kabar yang pernah kita taruh, jadi memori yang tersimpan dibawah sadar kita bakal bangkit kembali. 

Contoh, waktu kecil, kemungkinan kita pernah menyaksikan satu film yang mempunyai adegan di satu tugu atau monumen. Ketika dewasa, kita berkunjung ke tugu ini serta mendadak kita terasa familiar meskipun kita tdk ingat dengan film itu. 

Teori ini serupa dengan teori hp, namun teori ini sepakat kalau deja vu terkait dengan peristiwa yang sudah berjalan lama di kala lampau. 

Teori Pemrosesan Ganda (visi yang terlambat) 
Dalam beberapa hal, teori-teori tentang penyebabnya Deja Vu sama jauh dari yang diserahkan oleh Sigmund Freud. Tetapi seseorang peneliti bernama Robert Efron mengupayakan lihat lebih jauh dalam mekanisme otak, bukan hanya fikiran sadar atau tdk sadar. Meskipun begitu teknikal, teori yang diserahkannya dikira jadi diantara teori Deja Vu paling baik yang pernah ada. Teori Efron ini terkait dengan bagaimana caranya otak kita menaruh memori periode panjang serta periode pendek. Ia menguji teori ini pada th. 1963 di rumah sakit Veteran Boston. Menurut dia, tanggapan syaraf yang terlambat sanggup mengakibatkan deja vu. Hal semacam ini karena sebab Kabar yang masuk ke pusat pemrosesan di otak melalui lebih dari satu jalur. 

Efron mendapatkan kalau Lobus Temporal dari otak sisi kiri bertanggungjawab utk mensortir kabar yang masuk. ia juga mendapatkan kalau Lobus Temporal ini terima kabar yang masuk 2 x dengan sedikit delay pada dua transmisi itu. 

Kabar yang masuk pertama kalinya segera menuju Lobus Temporal, sedang yang ke-2 kali ambil jalan berputar melalui otak samping kanan terlebih dulu. 

Jika delay yang berlangsung sedikit lebih lama dari umumnya, jadi otak bakal memberi catatan saat yang salah atas kabar itu dengan berasumsi kabar itu jadi memori kala lantas. 

Deja Vu - Sepertinya saya pernah menulis ini. 
Tidak, saya hanya bercanda. Ini pertama kalinya saya menulis tentang Deja Vu. Meskipun tdk menakutkan seperti fenomena Doppelganger yang juga kerap dikaitkan dengan kegiatan otak, Deja Vu tetaplah dikira jadi fenomena yang mengagumkan misteriusnya.

Monday, June 5, 2017

Cara Menggunakan Kamera Nikon D5000

langkah memakai camera DSLR dari merk Nikon. Sangat utama buat Anda yang telah punya DSLR Nikon atau buat Anda yang merencanakan membelinya, tetapi belum tahu peranan menu yang dapat disebut benar-benar banyak. Pada umumnya nyaris semuanya DSLR Nikon di buat dengan penampilan menu yang nyaris sama, kendati ada pula ketaksamaannya. Semakin mahal camera, jadi jadi lebih banyak menu serta feature yang ada. Jadi contoh, pada Nikon D3100 tidak ada menu untuk feature IR remote, sedang dibanyak seri lain ada. 

Tarik tuas DSLR Anda ke on, lalu saksikan monitor LCD serta tekan tombol menu. Terlihat ada sekitaran 6 menu paling utama yang salah satunya yaitu Playback Menu, Shooting Menu, Custom Setting Menu, Setup Menu, Retouch Menu, serta paling akhir Recent Setting. Yang kerap diperlukan yaitu Playback Menu serta Shooting Menu. Semasing menu punya sub menu yang miliki peranan sendiri-sendiri. 

Playback Menu 


Pada menu ini dikhususkan untuk lakukan review serta pemrosesan photo yang telah di ambil. Ada sebagian sub menu dalam Playback Menu salah satunya adalah 

Detele, untuk menghapus photo dengan cara selektif, menghapus photo semuanya ataupun cuma menghapus data tanggal. Berlainan dengan tombol shortcut yang diperlukan untuk menghapus photo satu per satu. 
Menu playback folder, untukmenampilkan folder dalam memori camera. 
Display model, untuk memastikan apakah menginginkan menghadirkan RBG, histogram serta data lain pada photo. 
Image review, untuk mengatur apakah photo bakal dipertunjukkan sebagian waktu sesudah di ambil. 
Rotate Tall, untuk merotasi photo portrait biar sesuai sama monitor LCD. 
Slide Show, untuk menghadirkan daftar photo dengan cara automatis. Dengan menu ini Anda bisa pula mengatur seberapa detik satu photo bakal dipertunjukkan. Dapat juga memberikan dampak transisi pada jeda perubahan. 
Print set (DPOF), untuk pilih serta produksi photo yang akan diciptakan. Pastinya mesti diciptakan pada mesin yang cocok dengan DPOF. 
Shooting Menu 



Pada menu ini dikhususkan untuk penyusunan saat sebelum memfoto. Tidak semuanya DSLR Nikon sama tentang feature pada Shooting Menu ini. Sub menu yang ada pada Shooting Menu salah satunya yaitu : 

Set Picture Control, untuk pilih macam warna yang bakal diperlukan. Umumnya ada standard, neutral, vivid, monochrome, landscape serta portrait. Ada juga penyusunan manual pada semasing Picture Control itu. 

Scene Model (apabila ada), untuk pilih type pemotretan, baik itu untuk siluet, sports, night, candle light, beach, kids, high key, low key dll. Menu ini tidaklah selamanya ada pada tiap-tiap seri DSLR Nikon/ 

Manage picture control, untuk memastikan apakah satu photo bakal di save atau tidak. 
Reset Shooting Options, untuk kembalikan semuanya penyusunan Shooting Menu seperti awal mulanya atau standard. 

Image Quality, untuk memastikan kwalitas photo, dengan pilihan JPEG (fine, normal serta basic) ataupun RAW Neff. 

Image size, untuk memastikan seberapa besar photo yang bakal di buat, dimulai dari Large, Medium serta Small. Perincian ukuran tiap-tiap camera berlainan bergantung besarnya pixel. 

White Balance, untuk mengatur serta sesuaikan keseimbangan warna pada semasing keadaan. Ada White Balance Auto, Incandescent, Fluorescent, Flash, Cloudy, Direct Sunlight, Shade serta preset manual di mana masing-masingnya bisa ditata warna dengan cara manual. 

ISO sensivity settings, untuk mengatur berapakah ISO yang diperlukan atau memakai auto. Setiap camera miliki angka macam ISO yang tidak sama. 

Active D-Light, untuk bikin jelas di sisi photo yang gelap. 
Auto Distorstion Control, untuk mengoreksi barel atau distorsi pincushion, waktu memfoto dengan 
lensa type-G, lensa type D, fisheye, serta jenis-model spesifik yang lain. 

Noise Reduction, untuk menolong kurangi noise atau bintik-bintik yang disebabkan pemakaian ISO 
tinggi. 

AF ruang model, untuk memastikan feature AutoFocus apa yang bakal diperlukan. Nikon biasanya menyematkan 4 feature AF ruang model, salah satunya yaitu Single Point, Dynamic ruang, Auto ruang, serta 3D. Titik konsentrasi tiap-tiap camera berlainan jumlahnya. Menu ini dapat diperlukan untuk mengatur konsentrasi pada pemakaian Live view, dengan pilihan Face Priority AF, Wide ruang 
AF, Normal ruang AF, serta Subject Tracking AF. 

Metering, untuk pilih mode-mode metering, ialah Matrix metering, Spot metering serta Center Weighted metering. Metering bermanfaat untuk mengkaji distribusi tonal, warna serta komposisi. Memerlukan lebih dari satu halaman untuk mengulas metering camera. 
Movie Settings (apabila ada), untuk mengatur seberapa besar ukuran serta kwalitas video yang bakal di buat atau untuk memastikan on-off sound. Semasing camera sediakan ukuran video yang tidak 
sama. 

Long exposure NR (apabila ada), untuk meredam noise yang dibuat dari pemotretan dengan setting kecepatan rana lambat. 
Built in Flash (apabila ada), untuk mengatur model flash bawaan camera, apakah memakai TTL atau dengan cara manual.